Senin, 25 Juni 2012

KOMPLIKASI MASA NIFAS


SUB TOPIK

1.             Perdarahan per vagina
2.             Infeksi masa nifas
3.             Sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur
4.             Pembengkakan di wajah atau ekstrimitas
5.             Demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih

1. PERDARAHAN PER VAGINA
Perdarahan nifas dinamakan sekunder bila terjadi 24 jam/lebih sesudah persalinan. Perdarahan ini bisa timbul pada minggu kedua masa nifas. Perdarahan sekunder ini ditentukan <1% dari semua persalinan. Perdarahan dari vagina atau lokhia berlebihan pada 24 jam sampai 42 hari sesudah persalinan dianggap sebagai perdarahan post partum sekunder dan memerlukan pemeriksaan serta pengobatan segera. Perdarahan post partum sekunder paling sedikit selama 10 hari pertama terhadap tanda-tanda awalnya.
Perdarahan yang mungkin terjadi dalam masa 40 hari biasanya disebabkan oleh adanya sub involusi uteri. Penderita disuruh tidur dan diberi tablet ergometrin, umumnya perdarahan berhenti. Bila perdarahan tetap ada, maka sebaiknya dilakukan kerokan untuk menyingkirkan kemungkinan sisa-sisa plasenta. 
 
2. INFEKSI MASA NIFAS
Haid pertama sesudah persalinan kadang-kadang banyak, akan tetapi tidak jarang ini dapat diatasi dengan tidur. Bila serviks tidak hiperemik, meradang dan erosi; dan ada persangkaan kearah keganasan maka pengobatan dengan kauterisasi (kimiawi, elektrik) atau cryosurgeri sudah cukup untuk kelainan tersebut. Pemeriksaan sesudah 40 hari tidak merupakan pemeriksaan terakhir. Lebih-lebih bila ditemukan kelainan-kelainan meskipun sifatnya ringan. Hal ini akan banyak sekali manfaatnya agar wanita jangan sampai menderita penyakit-penyakit yang makin lama makin berat hingga tidak dapat atau susah diobati. Misalnya bila ternyata ada gejala-gejala karsinoma serviks uteri stadium III-IV.
a.             Etiologi :
1.             Kelainan kongenital uterus
2.             Inversio uteri
3.             Mioma uteri submukosum
4.             Penghentian pengobatan dengan estrogen untuk menghentikan laktasi
5.             Pengeluaran plasenta dan selaputnya tidak lengkap 
Suatu bagian dari plasenta 1 atau lebih lobus tertinggal
1.             Persalinan lama
2.             Persalinan dengan komplikasi atau dengan menggunakan alat
3.             Terbukanya luka setelah bedah sesar
4.             Terbukanya luka setelah episiotomi
5.             Infeksi
6.             Koagulopati
*            Bentuk patologipembekuan darah yang menyebabkan terjadinya perdarahan internal atau eksternal yang luas
*            Takhikardia
*            Diavoresis (keringat berlebihan)
*            Penurunan trombosit, fibrinogen dan protrombin
*     Subinvolusi :
*   Merupakan keadaan dimana tidak kembalinya uterus padakeadaan normal sesudah partus.
*   Uterus yang lunak dengan perlambatan atau tidak ada penurunan tinggi fundus
*   Warna lokhia merah kecoklatan persisten atau berkembang lambat selama tahap-tahap lokhia diikuti perdarahan
Perdarahan sedikit mungkin menimbulkan syok pada ibu yang menderita anemia berat. Syok harus segera diatasi dan cairan yang hilang harus segera diganti. Sedapat mungkin ibu dirujuk dengan anggota keluarganya yang akan menjadi donor darah. Berikan suplementasi zat besi setelah perdarahan. Perdarahan dapat terjadi kapan saja sesudah bayi lahir. Ruptura uteri dapat terjadi dalam persalinan tanpa tampak adanya perdarahan keluar.

a.             Penanganan :
1.             Kaji adanya infeksi
2.             Ergonovin (ergotrate) 0,2 mg peroral tiap 4 jam selama 3 hari atau metilergonovin (methergine) 0,2 mg peroral tiap 4 jam selama 3 hari
3.             Observasi dan catat tanda-tanda vital secara teratur, catat dengan teliti riwayat perdarahan (kapan mulainya dan berapa banyak darah yang sudah keluar → hal ini akan menolong dalam mendiagnosis secara cepat dan memutuskan tindakan yang tepat)
4.             Berikan suplemen zat besi selama 90 hari kepada ibu yang mengalami perdarahan post partum sekunder ini
5.             Berikan antibiotik (ampisilin 500 mg dan metronidazol 1 gr peroral, lanjutkan dengan ampisilin 500 mg peroral setiap 6 jam)
6.             Buat catatan yang akurat
7.             Bila kondisi ibu memburuk pasang infus dan segera rujuk (cairan IV guyur supaya nadi bertambah kuat, lalu tetesan dipelankan dan dipertahankan terus sampai ibu tiba dirumah sakit)
8.             Jelaskan dengan hati-hati kepada ibu dan keluarga tentang apa yang akan terjadi
9.             Uji pembekuan darah
10.         Evaluasi kembali setiap 2 minggu
11.         Rujuk ibu bersama bayinya (jika memungkinkan) dan anggota keluarganya yang dapat menjadi donor darah jika diperlukan kerumah sakit.

3. SAKIT KEPALA, NYERI EPIGASTRIK, PENGLIHATAN KABUR

Dapat juga dimulai dengan pemberian 0,5 mg ergometrin IM, yang dapat diulang dalam 4 jam atau kurang. Perdarahan yang banyak memerlukan pemeriksaan tentang sebabnya. Apabila tidak ditemukan inversio uteri atau mioma submukosum yang memerlukan penanganan khusus, kerokan dapat menghentikan perdarahan. Pada tindakan ini perlu dijaga agar tidak terjadi perforasi.
1.      Sakit kepala
Nyeri kepala pada masa nifas dapat merupakan gejala preeklampsia, jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang maternal, stroke,koagulopati dan kematian.
Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah:
1.      Sakit kepala hebat
2.      Sakit kepala yang menetap
3.      Tidak hilang dengan istirahat
4.       Depresi post partum
 Kadang - kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan karena terjadinya edema pada otak dan meningkatnya resistensi otak yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang) dan gangguan penglihatan. 
a.      Gejala :
1.      Tekanan darah naik atau turun
2.      Lemah
3.      Anemia
4.      Napas pendek atau cepat
5.      Nafsu makan turun
6.      Kemampuan berkonsentrasi kurang
7.      Tujuan dan minat terdahulu hilang; merasa kosong
8.      Kesepian yang tidak dapat digambarkan; merasa bahwa tidak seorang pun mengerti
9.      Serangan cemas
10.  Merasa takut
11.  Berpikir obsesif
12.  Hilangnya rasa takut
13.  Control terhadap emosi hilang
14.  Berpikir tentang kematian
b.      Penanganan
1.      Informed consent
2.      Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarga
3.      Pemberian  Parasetamol dan Vit B Complek 2x/hari, Tablet zat besi 1x/hari
4.      Jika tekanan diastol >110mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik
5.      Pasang infus RL dengan jarum besar no.16 atau lebih
6.      Ukur keseimbangan cairan
7.      Persiapan rujukan
8.      Periksa Hb
9.      Periksa protein urine
10.  Observasi tanda-tanda vital
11.  Lebih banyak istirahat

2.      Nyeri epigastrium
Nyeri daerah epigastrium atau daerah kuadran atas kanan perut, dapat disertai dengan edema paru. Keluhan ini sering menimbulkan rasa khawatir pada penderita akan adanya gangguan pada organ vital di dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain.
Preeklamsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan, umumnya terjadi pada triwulan ke-3 kehamilan. Sedangkan eklampsia merupakan penyakit lanjutan pre­eklamsia, yakni gejala di atas ditambah tanda gangguan saraf pusat, yakni terjadinya kejang hingga koma, nyeri frontal, gangguan penglihatan, mual hebat, nyeri epigastrium, dan           hiperrefleksia. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada  tanda-tanda lain karena terjadi reimplantasi amnion ke dinding rahim pada trimester ke-3 kehamilan. Pada keadaan ibu yang tidak sehat atau asupan nutrisi yang kurang, reimplantasi tidak terjadi secara optimal sehingga menyebabkan blokade pembuluh darah setempat dan menimbulkan hipertensi. Diagnosis hipertensi dapat dibuat jika kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan atau mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Penentuan tekanan darah ini dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali perlu me­nimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Edema juga terjadi karena proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3 g/liter dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1+ atau 2+  atau 1g/liter atau lebih dalam air ken­cing yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. Biasanya proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan, karena itu harus dianggap sebagai tanda yang cukup serius.

*     Tanda dan Gejala
1.      Kira-kira 90 persen pasien terdapat lelah,
2.       65 persen dengan nyeri epigastrium, 30 persen dengan mual dan muntah
3.      31 persen dengan sakit kepala.

*     Penanganan :
1.      Informed consent
2.      Mengobservasi TTV
3.      Persiapan rujukan
4.      Pemeriksaan darah rutin
5.      Tes fungsi hati.
6.      Profilaktik MgSO4 untuk mencegah kejang (eklampsia),
7.      Bolus 4 – 6 g MgSO4 dalam kon­sentrasi 20%. Dosis ini diikuti dengan infus 2 g per jam.
8.      Jika terjadi toksisitas, masukkan 10 – 20 ml kalsium glukonat 10%  i.v.
9.      Terapi antihipertensi harus dimulai jika tekanan darah senantiasa di atas 160/­110 mmHg → Hidralazin IV dosis rendah 2,5 – 5 mg (dosis inisial 5mg) setiap 15 – 20 menit sampai tekanan darah target tercapai atau kombinasi nifedipin dan MgSO4.

3.      Penglihatan kabur
Perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda preeklampsi. Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya penglihatan  kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) , berkunang-kunang.
Selain itu adanya skotoma, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang menunjukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks cerebri atau didalam retina (edema retina dan spasme pembuluh darah). Perubahan penglihatan ini mungkin juga disertai dengan sakit kepala yang hebat.
Pada preeklamsia tampak edema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada satu atau beberapa arteri. Skotoma, diplopia, dan ambliopia pada penderita preeklamsia merupakan gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia. Keadaan ini disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau dalam retina. Perubahan pada metabolisme air dan elektrolit menyebabkan terjadinya pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Kejadian ini akan diikuti dengan kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum dan sering bertambahnya edema, menyebabkan volume darah berkurang, viskositas darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih lama. Karena itu, aliran darah ke jaringan di berbagai bagian tubuh berkurang, dengan akibat hipoksia. Elektrolit, kristaloid, dan protein dalam serum tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklamsia. Konsentrasi kalium, natrium, kalsium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas-batas normal. Gula darah, bikarbonat dan pH pun normal. Kadar kreatinin dan ureum pada preeklamsia tidak meningkat, kecuali bila terjadi oliguria atau anuria. Protein serum total, perbandingan albumin globulin dan tekanan osmotic plasma menurun pada preeklamsia. Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat dengan nyata dan kadar tersebut lebih meningkat lagi pada preeklamsia.

*     Tanda dan Gejala :
1.      Peningkatan tekanan darah yang cepat
2.      Oliguria
3.      Peningkatan jumlah proteinuri
4.      Sakit kepala hebat dan persisten
5.      Rasa mengantuk
6.      Penglihatan kabur
7.      Mual muntah
8.      Nyeri epigastrium
9.      Hiperfleksi

*     Faktor resiko :
1.         Primigravida
2.         Wanita gemuk
3.         Wanita dengan hipertensi esensial
4.         Wanita dengan kehamilan kembar
5.         Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa, polihidramnion
6.         Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
7.         Riwayat keluarga eklamsi

*     Peran Bidan :
1.      Mendeteksi terjadinya eklamsi
2.      Mencegah terjadinya eklamsi
3.      Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan dokter
4.      Memberikan penanganan awal sebelum merujuk pada kasus eklamsi

*     Penanganan :
*      Informed consent
*      Segera rawat
*      Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya
*      Persiapan rujukan
*      Jika pasien tidak bernafas :
*     Bebaskan jalan nafas
*     Berikan oksigen
*     Intubasi jika perlu
*      Jika pasien tidak sadar atau koma :
*     Bebaskan jalan nafas
*     Baringkan pada satu sisi
*     Ukur suhu
*      Jika pasien syok atasi dengan penanganan syok
*      Jika ada perdarahan atasi penanganan perdarahan
*      Jika kejang :
*     Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi kemungkinan aspirasi secret, muntah/darah
*     Bebaskan jalan nafas
*     Pasang spatula lidah untuk menghindari tergigitnya lidah

4. PEMBENGKAKAN WAJAH DAN EKSTREMITAS
Pembengkakan wajah dan ektremitas atau yang sering disebut dengan udem sering ditemukan pada wanita hamil ataupun nifas. Baik karena perubahan fisiologis maupun perubahan yang patologis.
Udem adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan , akibat adanya gannguan keseimbangan.
Udem dapat terjadi oleh :
1.      Adanya tekanan hidrostatik yang sangat tinggi pada pembuluh kapiler seperti misalnya bila aliran darah vena tersumbat
2.      Tekanan osmotik terlalu rendah, karena kadar protein plasma, terutama albumin sangat rendah
3.      Sumbatan pada aliran limfe
4.      Kerusakan dinding kapiler sehingga plasma dapat merembes keluar dan masuk ke dalam jaringan serta menimbulkan tekanan osmotik yang melawan tekanan osmotik protein dalam aliran darah
Udem juga terlihat pada adanya trombosis pada vena – vena betis yang terletak dalam, biasanya merupakan komplikasi berbahaya akibat berbaring yang terlalu lama, yang menyebabkan aliran dalam darah vena menjadi lambat sehinga membeku. Trombosis seperti ini terjadi akibat infeksi.
Keadaan pembengkakan wajah dan ekstremitas, sering menyertai kelainan – kelainan pada masa nifas, sebagai berikut
1.       Preeklampsi
2.      Syndrom Nefrotik

EKLAMSI POSTPARTUM
Selain pembengkakan wajah dan ekstremitas, adapun gejala – gejala yang sering menyertai eklamsi postpartum adalah
1.  Peningkatan tekanan darah, diastolic > 90 mmHg
2.  Oluguria
3.  Peningkatan jumlah proteinuri ( karena vasospasme akut )
4.  Sakit kepala berat dan persisten
5.  Rasa mengantuk
6.  Penglihatan kabur
7.  Mual muntah
8.  Nyeri epigastrik
9.  Hiperefleksi
Faktor resiko :
1.      Primigravida
2.      Wanita dengan hipertensi esensial
3.      Wanita dengan kehamilan kembar
4.      Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa, polihidramnion
5.      Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
6.      Riwayat keluarga eklamsi
Peran Bidan :
1.  Mendeteksi terjadinya eklamsi
2.  Mencegah terjadinya eklamsi
3.  Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan dokter
4.  Memberikan penanganan awal sebelum merujuk pada kasus eklamsi

SYNDROM NEFROTIK
Syndrom nefrotik adalah suatu spektrum penyakit ginjal yang penyebabnya beragam. Pada gambaran mikroskopis ginjal, terdapat kelainan pada sawar dinding kapiler glomerulus, yang menyebabkan filtrasi protein plasma yang berlebihan.
Gejala yang menyertai syndrom nefrotik ini selain dari pembengkakan wajah dan ekstremitas antara lain :
1.      Proteinuria > 3 gr/hari
2.      Hipoalbuminemia
3.      Hiperlipidemia

4. DEMAM, MUNTAH DAN RASA SAKIT WAKTU BERKEMIH
Demam merupakan salah satu manifestasi dari gejala infeksi, dan rasa sakit waktu berkemih merupakan salah satu gejala dari Infeksi saluran kemih. Ibu pasca partum, merupakan individu yang beresiko tinggi mengalami hal ini, karena sensitivitas kandung kemih berkurang akibat peregangan, trauma, dan retensi dari urin residu.

INFEKSI SALURAN KEMIH
      Kebanyakan infeksi saluran kemih pascapartum disebabkan oleh organisme gram negatif seperti Escheria Coli, yang menginvasi uretra dan kandung kemih serta menyebabkan sistitis. Bakteri kandung kemih kemudian mungkin naik ke ginjal, karena aliran urin balik vesikouretral sewaktu berkemih,  sehingga menyebabkan pielonefritis setelah beberapa hari.

a.SISTITIS
      Sistitis adalah peradangan kandung kemih tanpa disertai peradangan bagian atas saluran kemih.
Etiologi :
Yang tersering adalah Escheria Coli
Faktor predisposisi :
1.      Uretra wanita yang pendek
2.      Sistokel
3.      Sisa air kemih yang tertinggal
4.      Penggunaan kateter
Tanda dan gejala :
2.  Meningkatnya frekuensi berkemih
3.  Pada penekanan suprasimpisis, akan terasa nyeri lokal yang juga menyebar ke daerah lipat paha, prosedur pemeriksaan ini juga menyebabkan pasien ingin berkemih
4.  Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan lekosit dan eritrosit dan kadang – kadang ditemukan bakteri
5.  Kadang – kadang terdapat hematuria

  1. PIELONEFRITIS AKUT
Pielonefritis adalah infeksi pada ginjal yang biasanya disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Pyelonefritis terjadi akibat perubahan fisiologis dan anatomi yang diasosiasikan dengan kehamilan. Perubahan tersebut diantaranya :
1.  Penekanan ureter pada pinggir pelvik oleh uterus
2.  Penurunan kondisi kandung kemih saat nifas
3.  Dilatasi dan penurunan kondisi ureter akibat efek hormonal
Faktor predisposisi :
1.      Penggunaan kateter pada saat kehamialn atau persalinan
2.      Air kemih yang tertahan karena perasaan sakit waktu berkemih karena trauma persalinan atu luka pada jalan lahir
Gejala dan tanda ;
1.  Disuria
2.  Demam tinggi
3.  Sering kencing
4.  Nyeri perut
5.  Nyeri suprapubik
6.  Nyeri pinggang
7.  Nyeri dada belakang
8.  Anoreksia
* Mual/muntah     
 Peran bidan :
1.      Melakukan deteksi dini pada kasus infeksi saluran kemih
2.      Mencegah terjadinya infeksi saluran kemih
3.      Melakukan perawatan dengan segera dan melakukan kolaborasi dengan dokter dalam penanganan kasus infeksi saluran kemih

 Asuhan bidan :
1.      Ambil sampel urin tengah, untuk pemeriksaan urin. Kaji frekuensi, urgensi, dan jumlah pengeluaran urin untuk menilai fungsi kandung kencing. Inspeksi warna urin ( hematuria ), bau, kekeruhan ( kental atau encer )
2.      Menganjurkan ibu untuk berkemih setiap 2 – 4 jam, dan mengosongkan kandung kemih secara tuntas, sediakan kompres es untuk perineum selama 1 jam setelah kelahiran, untuk mengurangi pembentukan edema dan memfasilitasi berkemih.
3.      Kaji bila terdapat rasa sakit menyengat dan rasa panas pada saat berkemih
4.      Ibu sebaiknya sedikitnya minum 8 gelas cairan khususnya air setiap hari
5.      Kaji bila ada keluhan ketidaknyaman pada area suprapubik atau abdomen bagian bawah, nyeri punggung bagian bawah atau nyeri berat pada panggul.
6.       Bila ibu mengalami demam, anjurkan mandi dengan air hangat dan berikan obat antipiretik
7.      Menjelaskan pada ibu, bahwa obat – obatan yang diresepkan bisa merubah warna urin
8.      Kaji tanda – tanda vital 4 jam dan bila ada pengaruh pada tanda sistemik
9.      Menganjurkan ibu untuk menjaga personal higiene


Rasa sakit, merah, lunak dan bengkak di kaki
TROMBOFLEBITIS
Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan atau invasi mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah sepanjang vena dan cabang – cabangnya sehingga menjadi tromboflebitis. Hal ini disebabkan oleh adanya trombosis atau embolus yang disebabkan karena adanya perubahan atau kerusakan pada intima pembuluh darah, perubahan pada susunan darah, laju peredaran darah, atau karena pengaruh infeksi atau venaseksi.
  1. Pelviotromboflebitis/trombosis vena dalam
Mengenai vena – vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipogastrika.
Tanda dan gejala :
* Nyeri, yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari 2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas
* Penderita tampak sakit berat, dengan gambaran karakteristik sebagai berikut
-   Menggigil berulang kali, menggigil inisial terjadi sangat berat ( 30 – 40 menit ) dengan interval hanya beberapa jam sajadan kadang – kadang 3 hari. Pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
-   Suhu badan naik turun secara tajam ( 36 C- 40 C ), yang diikuti denga penurunan suhu dalam 1 jam.
-   Penyakit dapat berlangsung selama 1-3 bulan
-   Cenderung berbentuk pus, yang menjalar kemana – mana
* Gangguan darah :
-   Terdapat leukositosis ( meskipun setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia )
-   Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat yang tepat sebelum mulai menggigil. Meskipun bakteri ditemukan di dalam darah selama menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya anaerob.
* Pada periksa dalam, hampir tidak ditemukan apa – apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika yang sukar dicapai pada pemeriksaan.
Penanganan
* Rawat Inap
Penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli pulmonum
* Terapi medik
Pemberian antibiotik dan heparin jika terdapat tanda – tanda atau dugaan adanya pulmonum.
* Terapi Operatif
Pengikatan vena kava invferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru – paru meskipun sedang dilakuakn heparinisasi.
  1. Tromboflebitis femoralis/tromboflebitis superfisial
Mengenai vena – vena pada tungkai, misalnya vena femoralis, vena poplitea dan vena safena.
Tanda dan Gejala :
* Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7 – 10 hari kemudian suhu mendadak naik, kira – kira pada hari ke 10 sampai 20, yang disertai dengan menggigil atau nyeri sekali.
* Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan memberikan tanda – tanda sebagai berikut :
-   Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke luar serta sukar bergerak lebih panas dibanding kaki lainnya
-   Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada lipat paha bagian atas
-   Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
-   Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin, pulsasi menurun
-   Edema kadang – kadang terjadi sebelum atau setelah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering dimulai dari jari – jari kaki dan pergelangan kaki, kemudian meluas dari bawah ke atas
-   Nyeri pada betis, yang akan terjadi spontan atau dengan memijat betis atau dengan meregangkan tendo Achilles ( Tanda Homan )
Penanganan
*  Perawatan
Kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, lakukan kompres pada kaki setelah mobilisasi kaki hendaknya tetap dibalut elastik atau memakai kaus kaki panjang yang elastik selama mungkin.
* Mengingat kondisi ibu yang sangat jelek, sebaiknya jangan menyusui
* Terapi medik
Pemberian antibiotika dan analgetika.

  Peran  Bidan :
1.        Melakukan deteksi dini pada kasus tromboflebitis
2.        Melakukan perawatan dengan segera dan melakukan kolaborasi dengan dokter dalam penanganan kasus tromboflebitis
Asuhan bidan :
1.        Pantau tanda – tanda  vital. Waspada terhadap kenaikan suhu tubuh          (tanda – tanda infeksi).
2.        Inspeksi dan palpasi panas, warna, nyeri tekan dan nadi perifer dan tanda Homan positif
3.        Bantu ibu untuk istirahat di tempat tidur dengan posisi kaki ditinggikan total di atas bantal.
4.        Pakai kompres basah, yang hangat untuk kaki yang terkena ( vasodilatasi akan memfasilitasi aliran darah, serta mengurangi nyeri )
5.        Mulailah mobilisasi yang progresif setelah radang akut hilang
6.        Pakailah stoking penyokong ( yang dapat menekan vena superfisial dan meningkatkan aliran vena profunda )
7.        Pantau dan laporkan adanya tanda emboli paru. Waspada terhadap tanda – tanda seperti nyeri dada yang samar, kecemasan, frekuensi pernapasan kira - kira < 16 kali permenit, pucat, takipnea.
8.        Anjurkan ibu mengikuti langkah – langkah berikut untuk mencegah vena statis
-  Hindari menyilangkan kaki di dengkul saat duduk
-  Tinggikan kaki saat duduk, ketika memungkinkan
-  Hindari berdiri dalam waktu yang lama
-  Lakukan mobilisasi berkala sepanjang hari
-  Minum sedikitnya 240 ml air 6 kali setiap hari

REFERENSI
1.             Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta : EGC. 1998.
2.        Saifuddin, Abdul Bari. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. 2001.
3.          Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC. 1998. Halaman
4.             Cunningham FG. William obstetrics 22–nd edition. New York : Mc Graw-Hill. 2005.
5.             Cunningham, F.Gary et.al, 2006, Obstetri William Edisi 21 vol 1 dan 2. Jakarta : EGC
6.           POGI- JNPKKR. 2005. Buku Acuan Pelayanan Obstetri Neonatal dan Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes RI
7.             Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri Jilid I, Jakarta : EGC
8.     Saifuddin, Abdul Bari dkk, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta:JNPKKR-POGI
9.             Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. Jakarta : EGC
10.         Wiknjosastro, Hanifa, 2002, Ilmu kebidanan, Jakarta : YBPSP



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar