Senin, 04 Juni 2012

IMUNOSUPRESAN

IMMUNOSUPRESAN

Dasar pertahanan tubuh :
Mekanisme pertahanan tubuh ada 2  macam :
1.     Spesifik                           proses dalam humor
2.     Non- spesifik                 proses dalam sel

-           Pada mekanisme pertahanan non-spesifik , suatu zat asing dibuat tidak merusak , walau tanpa ada kontak sebelumnya
-           Pada mekanisme spesifik , harus ada kontak pertama yang menyebabkan terbentuknya antibodi.

Pertahanan non-spesifik
a.       Humor non-spesifik
Yang termasuk :
1.     Sistem komplemen : yang berperan adalah komponen-2 serum yang dapat diaktifkan oleh kompleks Ag-Ab atau tidak tergantung pada Ab à kemampuan melakukan pertahanan terhadap penyebab adalah netralisasi virus, stimulasi fagositosis dan sitolisis ( bakteriolisis, virolisis ).
2.     Lisozim à enzim yang dapat menghidrolisa dinding kuman G +

b.       Sel non-spesifik
Adalah sel fagosit, mis kelompok sel-2 darah putih :
1.     Granulosit neutrofil
2.     Granulosit eosinofil
3.     Monosit à makrofag

Pertahanan spesifik
a.       Pertahanan humor spesifik
Yang berperan adalah B – limfosit , yang akan berproliferasi dan diferensiasi menjadi Ab setelah kontrak dengan Ag
Reaksi Ag-Ab akan diikuti dengan terjadinya : presipitasi, aglutinasi, sitolisis.

b.       Pertahanan sel spesifik
Yang berperan adalah T-limfosit , pada kontak pertama akan membentuk sel efektor, yang berperan pada reaksi imun.


Jenis sel efektor :
·        Sel efektor yang sitotoksik ( T-pembunuh ) à juga bekerja sitotoksik pada sel kanker
·        Sel T-penolong à membantu agar T-sitotoksik bekerja optimal
·        Sel T-supresor à bekerja menghambat proses imun, dengan cara menekan fungsi B- limfosit dan T-limfosit lain.


Immunisasi Aktif
-           Vaksin berupa Ag à akan menyebabkan terbentuknya Ab à imunitas spesifik thd antigen
-           Syarat :
·        Vaksin mengandung antigen yang cukup
·        Kondisi umum yang menerima vaksin baik
-           Berdasarkan jenis antigen, vaksin dibedakan :
a.     Vaksin hidup : vaksin dengan kuman avirulen / apatogen yang masih dapat berkembang biak. Contoh : vaksin campak, parotis, poliomielitis cara Sbrin , rubela , BCG
b.     Vaksin mati : dengan kuman yang telah diinaktifkan / dimatikan. Contoh : vaksin poliomielitis cara Salk, influenza, rabies, pertusis , tifus.
c.      Vaksin toksoid à toksin yang sudah dilemahkan. Contoh : difteri, tetanus.

Vaksinasi BCG
-           Perlindungan thd TBC, diberikan setelah kelahiran
-           Rekasi vaksinasi umumnya jarang terjadi à pada tempat penyuntikan setelah beberapa minggu akan timbul benjolan kecil, yang kmd hilang lagi.
-           Vaksinasi berikutnya dilakukan dalam jarak 3 minggu.

Vaksinasi Difteri
-           Digunakan Difteri – formol- toksoid yg dibasorpsikan pada Al-hidroksida. Pada tempat suntikan kadang-2 terjadi kemerahan, udem disertai demam ringan dan sakit kepala.
-           Vaksinasi dasar diberikan 3 x

Vaksinasi Tetanus
-           Digunakan : tetanus – formol – toksoid, terikat pada Al-hidroksida.
-           Vaksinasi dasar 2x i.m. dengan jarak 4-8 minggu, suntikan ke-3 setelah 6 – 12 bulan, vaksinasi penyegar dilakukan selang 10 tahun
-           Reaksi akibat vaksinasi jarang.




Vaksinasi Hepatitis B
-           Vaksinasi dasar diberikan selang waktu 4 minggu, booster  6 bulan setelah vaksinasi pertama.
-           Efek samping : reaksi lokal, kadang demam, nausea, muntah, keluhan pada otot dan sendi.

Vaksinasi Poliomielitis
-           Kelumpuhan disebabkan 3 jenis virus yang berbeda à imunisasi dilakukan dg 3 jenis antigen à vaksin trivalen
-           Ada 2 macam :
a.     Vaksin Salk à mengandung 3 jenis virus yang diinaktifkan, disuntikkan 2 x dengan jarak 1 bulan. Booster  setelah 1 tahun. Jarang terjadi reaksi setelah imunisasi.
b.     Vaksin Sabin à mengandung 3 jenis virus yang dilemahkan , pemberian p.o. titer antibodi lebih lama dibandingkan vaksin Salk. Diberikan 2 x dengan jarak 6 – 8 minggu, penyegar setelah 1 tahun. Reaksi samping : sakit kepala, nyeri otot dan demam, kadang diare.

Vaksinasi Campak
-           Dilakukan 1 x , komplikasi jarang


Imunisasi Pasif
-           Dipergunakan antibodi yang sudah dibentuk dalam tubuh hewan ( serum ) atau manusia ( immunoglobulin )
-           Keuntungan : segera dapat dipergunakan
-           Kerugian : pertahanan berlangsung singkat, serum 8-14 hari, imunoglobulin tahan beberapa minggu. Penggunaan serum hewan kejadian komplikasi tinggi.
-           Diindikasikan jika ada kemungkinan terjadi infeksi dan waktu inkubasi untuk produksi antibodi tubuh sendiri tidak mencukupi.
-           Serum hewan :
·        Yang diperdagangkan umumnya berasal dari serum kuda
·        Serum asli kemudian dimurnikan secara fermentatif à didapat serum Fermo
·        Contoh :
Serum
Pembentuk toksin
Serum antitoksi à hanya bekerja pada toksin yang dihasilkan
Toksin botulismus
Cl. botulinum
Serum difteri
Corynbacterium diphtheriae
Serum bisa ular
Berbagai bisa ular




-           Imunoglobulin manusia
Yang ada dalam perdagangan :
a.     Preparat imunoglobulin non-spesifik à campuran berbagai antibodi              ( terutama IgG ), dibedakan menjadi :
·        Human immunogloublin normal à digunakan IM
·        Human immunoglobulin untuk IV à untuk keadaan dimana diinginkan peningkatan kadar imunoglobulin dengan cepat dan / atau diperlukan imunoglobulin dalam jumlah banyak.

Indikasi :
·        Profilaksis penyakit virus, terutama Hepatitis A
·        Keadaan defisiensi antibodi bawaan

b.     Preparat imunoglobulin spesifik ( hiperimunoglobulin ) à antibodi khusus satu penyebab peny yang spesifik
Diperoleh dari plasma dg titer antibodi tinggi thd peny tertentu
Digunakan untuk profilaksis atau terapi peny : hepatitis B, pertusis, tetanus, rabies, varisela


IMUNOSUPRESAN
Adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menekan reaksi imun, pada peristiwa dimana peristiwa imunologik harus ditekan, mis :
·        Penyakit akibat Ag homolog à mis : reaksi penolakan transplantasi organ
·        Penyakit akibat Ag autolog à penyakit autoimun / autoagresi : reaksi imun terhadap zat dalam tubuh sendiri, mis : LE sistemik, tiroitidis, glomerulonefritis.
·        Penyakit karena Ag eksogen , mis : asma bronkial, urtikaria à alergi

Mekanisme kerja :
1.     Menghambat proses fagositosis dan pengolahan AG menjadi Ag-imunogenik oleh makrofag
2.     Menghambat pengenalan Ag oleh sel limfosit imunokompeten
3.     Merusak sel limfoid imunokompeten
4.     Menekan pembentukan sel plasma penghasil  Ab
5.     Menghentikan produksi Ab oleh sel plasma.

Penggolongan :
1.     Immunosupresan Kelas I à diberikan sebelum perangsangan oleh Ag, jika diberikan setalah perangsangan à respons imun terus berjalan.
Mis : kortikosteroid dan alkilator radiomimetik


2.     Immunosupresan Kelas II
·        Diberikan 1 – 2 hari setelah perangsangan oleh Ag.
·        Bila diberikan sebelum perangsangan , tidak mempunyai efek imunosupresif , justru meningkatkan respons imun
·        Mis : antimetabolit.
3.     Immunosupresan Kelas III
Dapat diberikan sebelum atau sesudah perangsangan oleh Ag.

Dari gol-2 tsb yang sering digunakan sampai sekarang :
Kelas I            : glukokortikoid ( prednison, prednisolon )
Kelas II           : azatioprin, 6-merkaptopurin, klorambusil, metotreksat
Kelas III          : siklofosfamid

Hubungan obat imunosupresan dengan kemoterapi kanker ( sitotoksik )
Perbedaan prinsip adalah dalam penggunaannya :
1.     Sitotoksik yang digunakan sebagai imunosupresi : dosis rendah harian, untuk terapi kanker digunakan secara intermitten dengan dosis tinggi , setiap 3 – 6 minggu.
2.     Sitotoksik yang digunakan pada awal perpajanan Ag asing ( mis cangkok ginjal ) à dapat menghambat terjadinya respons imun , tetapi hal ini tidak dapat dilakukan pada terapi kanker.

Obat-obat imunosupresan :
1.       Azatioprin
-         Digunakan untuk menekan penolakan cangkok ginjal dan reumatoid artritis berat yang refrakter
-         Dalam tubuh dipecah menjadi merkaptopurin
-         Pemberian bersama alopurinol à toksisitas azatioprin meningkat
-         Efek samping : ggn. Hematopoesis ( leukopenia, trombositopenia ), ggn sal cerna ( mual, muntah, hilangnya nafsu makan dan kolestasis )
-         Kontra indikasi : depresi sumsum tulang parah, ggn fungsi hati dan ginjal, kehamilan dan menyusui.

2.       Metotreksat
-         Digunakan sbg : antineoplasma, mencegah penolakan cangkok sumsum tulang, peny autoimun dan peradangan tertentu.
-         Efek toksik pada penggunaan dosis rendah dan lama : fibrosis dan sirosis hati, pneumonitis akut dan kronis à reversibel





3.       Siklofosfamid
-         Dalam tubuh diaktifkan dulu oleh enzim mikrosom hati à akan berinteraksi dengan fenobarbital dan glikokortikoid
-         Digunakan pada : bedah cangkok, reumatoid artirits, sindrom nefrotik ( terutama pada anak ), granulomatosis.

4.       Kortikosteroid
-         Yang digunakan : glukokortikoid à prednison dan prednisolon
-         Efek terhadap respons humoral à pengurangan jumlah immunoglobulin
-         Efek thd respons imunseluler à menghindarkan jaringan dari keruskan oleh makrofag à efek antiinflamasi
-         Digunakan pada peradangan , eritema multiforme akibat obat yang mengenai sal cerna ( IV ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar